Tuesday, February 1, 2011

Run with Me - ( this is story ) PART 16





   Aku mendorongnya perlahan dan menjauhkan wajahku dari hadapannya. Aku takut bibi lizz mencurigai kami karena mobil theo lumayan lama berhenti disitu. Aku membuka pintu mobil dan mengucapkan beberapa kata. 'Thanks for ehmm and everything else'. Aku berlari masuk ke dalam rumah. Tenyata bibi lizz menungguku di ruang tv. 'Bagaimana acaramu dengan theo? Menyenangkan bukan?',godanya yg terlihat tertawa saat melihatku memegang bibirku. Aku masuk ke dalam kamar dan mengganti short dress dengan baju tidur. So damn, his lips so cool. 


   Aku tak tahu bagaimana reaksi dad saat mengetahui anak gadis satu-satunya berciuman dengan seorang lelaki yg mungkin lebih tua satu tahun dariku. Aku tetap teringat tentang perlombaan di sekolahku dengan hadiah yg sangat aku impikan. Ingin sekali aku memenangkannya atau hanya ikut berpartisipasi. Sangat sedikit sekali peluangku bisa mengikuti perlombaan bergengsi itu berhubung dad sangat tidak suka aku mengikuti perlombaan yg bisa membuatnya naik pitam. Aku sudah cukup senang saat dad menyetujinya karena syarat perlombaan ad persetujuan orang tua. Memberikan kepuasan tersendiri untukku. Aku memeluk foto mom dan tertidur hingga jam berbentuk makhluk kuning yg berasal dari laut membangunkanku. 


   Aku menemui bibi lizz yg telah mnyiapkan susu coklat kesukaanku. Yummy. Aku tak perlu lagi mengayuh sepeda jelek yg tetap menjadi kesayanganku untuk sampai ke sekolah. Theo yg siap menjemput dan mengantarku pulang. Tak lupa aku menyalami bibi lizz. Woww, theo terlihat beda, kereen. Apa ini hanya untuk mendapatkan pujian dariku atau memang seperti biasanya. Sampai tempat parkir sekolah, theo menggandengku. Kali ini aku tak kuatir karena theo telah menggapku sebagai , ya pacarnya. Theo mengantarku ke kelas karena memang kelas kami berbeda. Aku di kelas A2 dan theo A7. Aku melihat shaylon dan lukas sedang asiik mengobrol tidak di kursiku. Karena mungkin mereka tahu kalau aku akan marah saat mengetahui ada yg menempati kursi kesayanganku. Mereka tak memperdulikanku seakan tak menganggap aku ada. Whatever. 


   Aku mengeluarkan buku agar bisa belajar terlebih dahulu sebelum pelajaran dimulai. Jam istirahat. Theo sudah menungguku di depan pintu kelas dan aku segera menemuinya. Dia mengajakku ke kantin dan aku langsung mengiyakannya. Di kantin, kami berbincang-bincang tentang apa saja di bangku yg sudah disediakan. 'bagaimana hubungan dengan sahabatmu itu?',pertanyaan theo yg secara tiba-tiba membuatku tersedak. Dia memberiku air minum. Aku tak segera menjawabnya. 'kau tak mengerti perasaanku. Dia telah beberapa kali membuatku menangis. 


   Bukankah sahabat selalu ada saat kita butuh? Bukankah sahabat itu take and give?', jawabku dengan nada sedikt naik dan tanpa terasa aku meneteskan air mata. 'hey, mungkin yg kau alami hanya sebagian kecil yg dialami lukas. Apa kau pernah mengerti perasaannya? Sahabat tak boleh ada ke-egois-an',kata-katanya yg mampu membuatku berada di pelukannya. Memang, aku tak pernah mengerti perasaannya. Aku sering mengabaikan nasihatnya. Aku sering tak mendengarkan kata-katanya. Aku sering meninggalkannya di perpus tanpa aku beritahu. Aku sering membuatnya kesal. Aku sering marah padanya tanpa sebab. Aku ingin ini semua lebih baik. Bel masuk membuatku segera masuk kelas secepatnya. Karena setelah ini ada pelajaran dari Mr. Arnold. Guru ter-killer di sekolahku. My best friend, everything is gonna be fine....

No comments:

Post a Comment

dont be afraid to comment here, I dont bite