Sunday, May 4, 2014

Sendiri

source here

                Ada yang salah dengan sendiri?
          Beberapa teman yang “masih” sendiri dalam periode tertentu sering menjadi bahan candaan temannya. Yang dibully awalnya tidak mempermasalahkan dan yang membully merasa biasa saja. Apakah kamu pernah berpikir mereka (yang masih sendiri) sering merenung dan mencari jawaban “Kenapa sampai saat ini masih sendiri? Apa yang ditunggu?”
                Apa ada yang salah dengan sendiri?
          Semua orang berhak sendiri, bahkan sendiri itu pilihan. Meskipun pada akhirnya “sendiri” tidak akan dipilih karena sudah tidak ada pilihan lagi. Apakah mereka (yang masih sendiri) harus dikucilkan karena mempertahankan pilihannya? Apakah dengan berdua akan membuat keadaan jadi lebih baik untuk mereka yang sendiri?
                Lantas, apa yang membuat mereka masih sendiri?
                Ada beberapa hal yang dijadikan alasan seseorang mengapa mereka masih sendiri:

 Tidak ingin direpotkan

Percaya yang berdua tidak sama-sama direpotkan saat harus memberi kabar atau sekedar
melapor setiap saat? Padahal cuma main futsal, tapi laporannya harus lengkap main dimana, sama siapa dan pulang jam berapa. Menjengkelkan? Padahal cuma ngerjain tugas kuliah, tapi harus selalu ngasih kabar ngerjainnya dimana, sama siapa dan selesai jam berapa. Yang terjadi, “aku tidur dulu yaa, jangan sms atau telpon” padahal lagi main futsal atau pergi sama temen.

Belum mau repot
Yang sudah punya banyak kesibukan tentu harus mikir dua kali untuk berdua (tidak sendiri). Sudah disibukkan dengan kegiatan yang disukai, malah harus menambah kesibukan dengan memberi perhatian kepada pacar atau sekedar mengecek keberadaannya dimana. Tinggal suruh pacarnya check-in di Path aja tiap saat, jadi kamu tidak terlalu repot nyari tahu dia lagi dimana.

 Prioritas
Berhubungan dengan yang no 3, antara kesibukan, tuntutan orang tua dan orang terkasih. Mana yang kamu prioritaskan? Kalau masih belum punya kerjaan dan masih minta orang tua, mending penuhin dulu tuntutan orang tua. Belajar yang bener, cepet lulus dan dapet kerjaan. Yang disini masih berjuang untuk hal yang lebih penting dari apapun : masa depan. Kenapa? Karena dia mau lihat orang yang disayang bahagia menikmati hasil dari usaha yang selama ini dia kerjakan dan perjuangkan. Tetapi kenyataannya, yang disana tidak mengerti kenapa dia(yang disini) lebih memprioritaskan hal lain lebih dari pada dirinya. Untuk apa bersama orang yang tidak mau berjuang bersama dan mengerti kenapa ia harus memperjuangkan hal lain untuk masa depan. Don't make people a priority, if they only make you an option.

 Lelah dikecewakan
Untuk hal ini, dialami oleh orang yang sudah mencintai dan menyayangi sebegitu besarnya tetapi yang dia dapatkan kekecewaan yang begitu dalamnya


 Mencari yang terbaik
Memang dalam urusan masa depan, apalagi tuntutan orang tua yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya itu wajar. Tetapi bagaimana kalau yang terbaik itu belum datang? Padahal yang belum baik sudah mengisyaratkan kalau kamu pantas untuknya. Apa yang kamu tunggu? Dan pada saat kamu melihat yang belum baik  pantas untuk kamu, tapi sayangnya dia sudah punya yang lain. Siapa yang salah? Yang terbaik itu bukan menurut kita, tapi apa yang kita lakukan itu yang terbaik untuk dia.

 Menunggu
Untuk cewek dalam permasalahan “menunggu” biasanya didasari oleh gengsi. Iya, GENGSI. “Aku kan cewek, masa aku yang mulai duluan?” Kalian sadar, cowok ingin cewek memulai duluan karena mereka sudah lelah untuk hal yang sudah mereka perjuangkan tetapi yang didapat malah jauh dari taksiran. Untuk cowok biasanya nunggu si cewek putus dari pacarnya. Menyedihkan. Iya kalau kamu udah nunggu lama dan akhirnya mereka putus, tapi sayangnya si cewek sudah punya yang lain. Nyesek?

Tidak menjadi pilihan
Mereka yang masih sendiri dengan alasan ini adalah mereka yang tidak menjadi pilihan untuk dipilih. Ngenes?

        Sendiri itu tidak pernah dipermasalahkan selagi kamu masih bisa bersenang-senang dengan apa yang kamu lakukan tanpa harus mengeluh “Butuh Moodbooster”. Itu hanya alibi karena kamu belum benar-benar menyukai apa yang kamu kerjakan. Saat kamu disibukkan dengan hal atau kegiatan-kegiatan positif, itu akan mempersempit ruang “kamu merasa sendiri” di pikiranmu. Tidak pernah dilarang aktif di kegiatan yang banyak menyita waktu dan tenaga selama kamu bisa mengatur waktu dengan baik tanpa harus merugikan orang lain.
          Intinya, sendiri itu pilihan. Pilihan dimana kamu menjawabnya dengan hal yang positif atau bahkan negative. Jangan lupa, kesehatanmu kak!

KEEP “SIBUK” FELLAS!


3 comments:

  1. Wah, tulisan yang bagus von... :) Aku suka cara pandangmu menyikapi masalah ini :)
    Hidup itu pilihan,termasuk memilih sendiri (dulu) atau mempunyai pasangan.. Aku rasa memperdebatkan kedua hal ini cuma akan membuang2 waktu kita aja.. :D Tapi gini pointnya, setiap pilihan yang kita ambil mempunyai resiko, istilah ekonominya "opportunity cost". :D Memilih sendiri (dulu) mempunyai sisi positif dan negatifnya, begitu juga dengan mempunyai pasangan, namun menurutku yang paling penting bukan yang paling baik yang mana diantara memilih sendiri dan mempunyai pasangan, akan tetapi bagaimana kita "bahagia" dengan keputusan yang kita ambil itu. :) If being single makes you happy, then no problem with it.. If being in relationship makes you happy, then why not to have relationship? :) Anywya, thanks udah bikin tulisan ini yang bisa memberi aku sudut pandang yang lain tentang "Single". :) Keep up the good work! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih kunjungannya ka. Waah selalu deh, pembaca setia hehe. Aku mencoba menulis apa yang sebenernya terjadi (menurutku) dan gak semua kesendirian itu berarti gak bahagia kan? :)

      Delete
  2. artikelnya menarik mbak,poin-poin yang di sebutkan diatas ada benernya juga,terimakasih sudah share

    ReplyDelete

dont be afraid to comment here, I dont bite